my works / Thingy things / WANDERLUST

perjalanan menuju Bhumi Majapahit

Di tengah kesibukan mengejar hari pengumpulan tugas besar studio AR2100, kami mahasiswa Aristektur ITB angkatan 2011 berangkat ke Jogjakarta untuk memenuhi tugas kuliah lapangan mata kuliah Arsitektur Nusantara & Asia. Agak bimbang sebenarnya meninggalkan gambar-gambar dan maket yang belum saya selesaikan. H-7 adalah minggu yang haram hukumnya untuk lalai, terlebih lagi ini adalah tugas besar. Tapi daripada memusingkan hal itu, saya lebih memilih fokus ‘liburan’ di tanah yang dulunya berdiri nan megah kerajaan Majapahit ini. Berikut pengalaman serta data yang saya peroleh hasil keliah lapangan tersebut,

Hari ke-1 (1 Desember 2012)

1.1.Candi Borobudur

Mahakarya sang GunadharmaObjek pertama yang dikunjungi pada pagi hari Minggu, 1 Desember 2012 adalah Candi Borobudur. Sesosok bangunan megah mahakarya dari sang maestro, Gunadharma, atas perintah dari Raja Samaratungga selama pemerintahannya di bawah wangsa Dinasti Syailendra di Kerajaan Majapahit blok Budha. Candi Borobudur merupakan situs warisan dunia yang terdaftar di UNESCO dan merupakan candi Budha terbesar di dunia.

Candi Borobudur dapat direpresentasikan sebagai sebuah kitab agama Budha Mahayana, di mana merupakan penjelmaan proses hidup menuju kesempurnaan Budha. Dalam kosmologi Budha, terdapat tiga ranah, yaitu Kamadhatu atau nafsu rendah berbentuk pelataran di bagian kaki candi. Di ranah ini terdapat relief yang mengisahkan tentang karma kehidupan di dunia, di mana ketika berbuat buruk akan berdosa dan jika berbuat baik akan mendapat pahala, relief tersebut dapat dikatakan mengisahkan tentang siklus lahir-hidup mati. Kisah yang terdapat di Kamadhatu disebut Karmawibhangga. Ranah selanjutnya adalah

Relief Sidharta GautamaRupadhatu atau ranah berwujud, bisa dikatakan pula sebagai zona peralihan. Ranah ini terdiri dari empat undakan teras, memiliki tiga kisah dari relief-relief yang ada, yang pertama adalah Lalitawistara yang menceritakan tentang lahirnya sang Budha yang menjadi Pangeran Siddharta Gautama, kemudian kisah Jataka yang terdapat kisah fabel yang berakal seperti manusia memiliki pesan tentang pengumpulan jasa dan kisah Awadana mengenai perbuatan baik kedewaan, dan kisah terakhir yang bernama Gandawyuha mengenai kisah mencari pengetahuan tertinggi dengan pantang menyerah. Kemudian tingkatan ranah tertinggi, yakni Arupadhatu atau ranah tak berwujud, terdiri dari tiga teras berbentuk lingkaran. Pada ranah ini sudah tidak ada lagi relief berupa kisah-kisah dari berbagai kitab-kitab Budha seperti pada ranah-ranah sebelumnya.

Koridor RupadhatuArupadhatu sangatlah bersih, merepresentasikan kesempurnaan Budha yang telah menaklukan hawa nafsunya dan telah mencapai nirwana. Ranah ini terasa sangatlah berbeda dengan ranah-ranah sebelumnya, ketika berada di ranah ini terasa sangat tenang. Pada dua teras lingkaran terbawah terdapat stupa berlubang belah ketupat dan satu teras lingkaran teratas terdapat stupa dengan lubang bujur sangkar. Di dalam stupa tersebut terdapat patung sang Budha yang Nampak seperti dikurung atau dilindungi, melambangkan peralihan antara adanya sang Budha namun seperti tidak berwujud, karena patung tersebut ditutupi stupa. Bagian paling teratas dan utama dari candi ini adalah stupa terbesarnya yang bersih tanpa lubang, konon katanya terdapat patung Budha besar di dalamnya.

Arupadhatu

Petunjuk PradaksinaUntuk memahami kisah-kisah tersebut, kita harus melakukan Pradaksina, yaitu berjalan memutar searah jarum jam seperti tawaf dari pintu Timur ke pintu Utara, namun harus dilakukan berurutan sesuai jumlah cerita yang terdapat di setiap undakannya. Berdasarkan filosofis Budha, terdapat beberapa detail yang menjadi khas, yakni pada Rupadhatu terdapat patung Budha disepanjang langkan atau pagar yang membatasi teras dan memliki posisi berbeda yang bergantung pada arah mana dia menghadap dan meiliki arti yang berbeda atau disebut mudra, kemudian Kala yang dianggap sebagai tolak bala, terdapat pada gapura di Rupadhatu. Terdapat pula patung singa di pintu Timur yang dianggap sebagai penjaga. Detail kecil di setiap pojokan candi yang berbentuk kepala raksasa merupakan pancuran dari drainase, karena tanpa disadari di bawah koridor yang kita lalui merupakan saluran air. Dari atas, tampak bangunan ini memiliki bentuk berupa formasi mandala, yakni bentuk konsentris antara bujursangkar dan lingkaran. Candi ini memiliki sumbu vertikal, di mana bangunan ini akan sama jika di bagi kanan-kiri. Pasangan batu andesit pada candi ini sudah menggunakan sistem interlocking di mana setiap batu saling mengunci satu sama lain. Candi Borobudur memiliki konsep kaki-badan-kepala dengan perbandingan 4:6:9 .

1.2.Candi Prambanan

Objek selanjutnya yang dikunjungi teriknya matahari siang Yogyakarta adalah Candi Prambanan atau Candi Roro Jongrang. Sebuah kompleks candi yang dikatakan sebagai candi tandingan Candi Borobudur yang dibangun oleh Rakai Pikatan dari pihak Dinasti Sanjaya atau Kerajaan Majapahit blok Hindu. Candi ini juga termasuk ke dalam warisan dunia oleh UNESCO, juga sebagai candi Hindu termegah se-Asia Tenggara dan terbesar di Indonesia. Nama asli kompleks candi ini adalah Sivargha atau yang dalam bahasa Sansekerta artinya adalah rumah Siwa. Candi ini memang dibangun untuk dipersembahkan kepada Trimurti, yakni ketiga dewa utama dalam kepercayaan Hindu, yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wisnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Ketika menuju pusat kompleks Candi, terlihat banyak bebatuan andesit yang berantakan dikarenakan gempa bumi. Dari data yang diperoleh seharusnya terdapat 240 candi. Namun dari yang saya lihat hanya terdapat enam candi besar dan beberapa candi-candi mungil di halaman sekitar candi-candi besar tersebut.

Candi SiwaCandi paling besar di antara candi Trimurti adalah candi Siwa, melambangkan bahwa Siwa lah yang diutamakan di sini. Kini kita sudah dapat masuk ke dalam candi Siwa dengan menggunakan helm keselamatan proyek, tidak seperti tahun lalu saya dating ke sini. Pada candi Siwa terdapat relief yang berkisah tentang Ramayana yang dapat dibaca dengan melakukan Pradaksina melalui pintu Timur menuju pintu Utara yang kemudian dilanjutkan ke candi Brahma. Di dalam candi ini terdapat lima ruangan, yaitu empat ruangan sesuai arah mata angin dan satu garbagriha yang menjadi tempat bersemayamnya arca perwujudan Siwa, di ruangan lainnya, menurut data yang saya dapat seharusnya terdapat Ganesha, anak dari Siwa dan Durga. Tetapi dari hasil studi lapangan, yang dapat dilihat baru arca dari Dewi Durga, yakni istri dari Siwa, atau masyarakat biasa menyebutnya sebagai Roro Jongrang. Candi Brahma dan candi Wisnu terletak di samping kanan dan kiri candi Siwa. Keduanya berukuran sama besar. Di dalamnya hanya terdapat satu buah ruangan dan terdapat arca perwujudan dari masing-masing dewa dari persembahan candi-candi tersebut.

Arca Brahma

 

Candi yang cukup besar yang masih berada di halaman utama kompleks candi Prambanan adalah candi wahana atau kendaraan yang digunakan oleh  Trimurti. Siwa menunggangi seekor lembu yang disebut Nandi, di dalam candi Nandi terdapat arca dari Nandi berupa seekor lembu yang sedang duduk. Brahma menunggangi Angsana, di depan candi Brahma terpdat candi Angsa, namun tidak terdapat arca Angsa di dalamnya. Hal serupa terjadi pada candi wahana dari Wisnu, yakni Garuda, tidak ada arca Garuda di dalam candi tersebut, hanya kosong. Mungkin dahulunya ada, namun dijarah ketika candi ini masih ditelantarkan setelah ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles. Masih terdapat pula candi lainnya yang masih utuh, yakni candi Apit. Candi Apit adalah dua buah candi yang mengapit barisan keenam candi utama di tengah kompleks candi ini. Kemudian ada delapan candi mungil,  yaitu empat candi kelir dan empat candi patok. Candi Kelir terletak di empat arah mata angin atau di depan setiap pintu masuk, sedangkan candi Patok terdapat di setiap sudut.

Seperti halnya Candi Borobudur, Candi Prambanan juga memiliki tiga tingkatan. Tingkatan tersebut merepresentasikan dari yang kurang suci menuju yang paling suci. Bhurloka adalah tempat yang melambangkan hawa nafsu, atau dalam konsep antropomorfisme dikategorikan sebagai kaki candi. Bhuwarloka atau alam tengah adalah tempatnya orang suci rendahan yang sudah mulai melihat kebernaram, dilambangkan sebagai badan candi. Dan Swarloka atau alam tertinggi tempat dewa bersemayam, dilambangkan sebagai kepala candid an membentuk ratna yakni modifikasi dari warja atau merupakan versi Hindu dari stupa di Candi Borobudur.

Pelataran Candi TrimurtiDetail yang dapat terlihat adalah Kala yang Nampak lebih besar dibandingkan dengan yang terdapat di Candi Borobudur, dan terletak di pintu masuk ke dalam candi. Kemudian terdapat bentuk ular di tangga masuk ke dalam candi dan bentuk seperti kepala naga untuk keluarnya drainase di setiap pojokan candi. Nampak pula perbedaan zonasi dalam kompleksa candi ini jika dibandingkan dengan candi Borobudur, yakni zona peralihannya bukda terdapat di dalam badan candi, namun zona peralihannya berupa halaman tengah antara candi Trimurti dan candi Wahana. Menurut saya, kompleks candi Prambanan memiliki proporsi dan pola yang pas, dengan menggunakan warna monokrom dari batu andesit, ukuran candi dibuat sedemikian rupa, sehingga terdapat satu candi terbesar yang terletak hampir di tengah halaman utama kompleks candi ini dengan ritme ukuran candi-candi lain sebagai pendampingnya. Juga detail atap candi yang semakin mengecil di puncaknya, membuatnya tampak semakin menjulang dan tampak seolah-olah menjadi yang paling tinggi dan dapat menyentuh langit.

1.3. Kompleks Kerajaan Ratu Boko

Gerbang Ratu BokoSetelah mulai sore dan hujan dimulai, perjalanan dilanjutkan menuju kompleks Kerajaan Ratu Boko. Situs ini berada di atas bukit, sehingga perlu melalu puluhan anak tangga yang terdapat banyak ulat bulu di sekitarnya. Namun setelah mencapai puncaknya, nampak hamparan rumput hijau dengan beberapa ekor domba kecil dan ayam yang menjadi halaman dari pintu gerbang besar seperti gapura di atas dinding penahan tanah. Kesemuanya tersusun atas tumpukan bebatuan andesit. Gapura ini tidak terlalu memiliki ciri khas Hindu namun tidak pula Budha. Pintu gerbang kerajaan ini membuat saya teringat pada film perang Kerajaan zaman Hidnu-Budha dulu.

Terdapat dua buat gerbang gapura yang harus dilalui untuk memasuki area dalam kerajaan. Di bagian dalam sebelah kiri terdapat susunan batu andesit yang membentuk menyerupai kaki candi, seperti kaki candi Prambanan atau candi Hidnu lainnya. Namun, bebatuan ini hanya menunjukan bagian kakinya saja, lalu ke manakah bagian atasnya? Pertanyaan tersebut masih saya simpan untuk saya ambil kesimpulan di akhir kompleks ini nantinya. Melangkah lagi menuju dataran yang lebih rendah, terdapat bagian kaki bangunan lagi, kalau dilihat tapaknya, seperti saling berhadapan satu sama lain, nama bangunan ini adalah Paseban.

Kemudian di lokasi yang terletak sekitar duapuluhan meter, terdapat Pendopo. Agak membingungkan awalnya, karena yang terlihat adalah pagar tinggi menyerupai benteng. Ternyata setelah masuk ke dalamnya, terdapat lantai bebatuan andesit yang tersusun rapih dan terletak lebih tinggi di atas tanah. Dari strukturnya, ditemukan beberapa batu yang diposisikan menyerupai umpak di bagian bawah lantai Pendopo ini. Arkeolog mengasumsikan bahwa dahulunya bagian atas bangunan ini terbuat dari material yang mudah hancur, seperti kayu, sehingga tidak bersisa lagi artefaknya sampai sekarang. Dan kalau dipikirkan lagi, kompleks ini merupakan kompleks kerajaan yang berarti digunakan sebagai tempat tinggal, maka dari itu tentu tidak wajar jika bagian atap menggunakan bebatuan candi, seperti andesit. Dan akhirnya terjawab pertanyaan saya di awal ketika melihat bagian kaki bangunan yang menyerupai kaki candi Prambanan.

Terdapat bangunan yang terletak di pinggir bukit dinamakan Keputren, digunakan untuk tempat tinggal para wanita kerajaan, konon ketika zaman keraton, para wanita ‘disimpan’ di bagian belakang kerajaan untuk dijaga. Kemudian ada kolam pemandian di bagian belakang kompleks kerajaan. Kolam tersebut biasa digunakan oleh para putri-putri kerajaan, karena letaknya sudah satu level tanah dengan Keputren. Ada dua buah macam kolam, yang pertama memanjang seperti persegi panjang dan yang kedua berupa lingkaran-lingkaran yang tergabung menjadi satu. Dari tempat ini dapat melihat pemandangan hamparan hijau bukit yang terletak di seberang bukit di mana Ratu Boko berdiri. Sungguh telah dipikirkan dengan matang ketika membangunnya ditujukan agar membuat kerajaan yang tenang, yakni di atas bukit. Dan jika dibayangkan, site plan yang ada sudah menyerupai site plan keraton Jawa yang masih ada sampai saat ini, misalnya Kasunanan Ngayogyakarta.

 

Hari ke-2 (2 Desember 2012)

2.1  Kompleks Tamansari

 

Pagi hari berangkat menuju sebuah kompleks peristirahatan keluarga Keraton yang dibangunpada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I. Konon tempat ini merupakan tempat paling indah di zamannya, dari kejauan Nampak seperti bangunan yang mengambang, maka disebutlah sebagai Istana Air. Kompleks ini memiliki bangunan yang dibangun beserta danau buatan di sekitarnya, karena itu bangunan tampak mengambang. Dahulu, ketika keluarga kerajaan ingin memasuki salah satu bangunan atau yang disebut pulau harus menggunakan sampan atau adapat melalui lorong-lorong bawah tanah. Kini danau buatan itu sudah berubah menjadi pemukiman warga, namun lorong-lorong tersebut masih dapat kita lalui.

Pulau KenongoBangunan pertama yang akan menyambut kedatangan para tamu adalah Pulau Kenongo atau yang berasal dari bunga kenanga. Bunga kenanga merupakan bunga yang sangat wangi, dapat dijadikan sebagai pengarum ruangan maupun lulur untuk perawatn tubuh wanita, maka dari itu kompleks ini pas sekali ditujukan bagi para wanita-wanita keraton dahulu. Dilanjutkan menuju Pulau Cemethi, bangunan ini terdiri dari dua lantai dengan bentuk membentang horizontal simetris dengan sebuah ruangan di bagian tengahnya. Pada salah satu sisi bangunan di lantai bawahnya terdapat sebuah sumur. Selanjutnya banyak bangunan yang nampak serupa di sekitar perjalanan menuju pulau selanjutnya, yakni, beratap menyerupai sirap buatan, namun berbahan beton dan berwarna krem menyeluruh. menuju sebuah bangunan kecil, jika dilihat nampak seperti gudang kecil. Krem yang lebih gelap di bagian atapnya, sedangkan badan bangunan hampir berwarna putih. Detail yang sangat menarik pun dapat dijumpai di setiap ujung sudut atap. Namun terdapat perbedaan pada fasade pintu masuk Sumur Gumuling, di atas pintu masuk terdapat fasade berbentuk setengah lingkaran yang berrelief menganai hutan di sekitar keraton yang dulu pohon Jati tumbuh subur di dalamnya. Ketika memasuki bangunan ini kita harus menuruni anak tangga dan berjalan melalui lorong air, di ujung lorong terdapat bangunan berbentuk lingkaran dan terdiri dari dua lantai, konon bangunan ini dahulu digunakan sebagai masjid. Terdapat sebuah ruang di lantai bawah yang agak menjorok ke dalam yang katanya duahulu digunakan sebagai mihrab dari imam masjid. Di tengah bangunan ini terdapat empat buah susunan tangga yang menuju satu buah susunan tangga untuk naik ke lantai atas. Di bawah susunan tangga terdapat kolam yang konon digunakan sebagai tempat berwudhu.

Bagian Tengah Sumur Gumuling

Sumur Gumuling

Perjalanan dilanjutkan dengan keluar dari Sumur Gumuling, menuju sebuah bangunan yang bernama Gedhong Gapura Hageng. Bangunan ini memiliki pintu masuk seperti gapura yang sangat besar dan fasadenya berupa relief hiasan bunga-bunga dan burung-burung. Di depan bangunan ini terdapat taman berbentuk segi delapan dengann pot-pot bunga yang sangat besar. Bagian dalam bangunan ini tidak terlalu besar, hanya terdapat beberapa ruangan saja di dalamnya. Di belakang bangunan ini terdapat taman yang serupa dengan taman di bagian depan bangunan. Di sana terdapat gapura dengan beberapa undakan, ternyata gapura ini adalah pintu masuk menuju Umbul Pasiraman atau tempat pemandian sultan, permaisurinya, beserta putri-putrinya. Di dalamnya terdapat tiga buah kolam yang dikelilingi oleh pot-pot bunga berukuran sangat besar seperti di taman tadi. Kolam-kolam ini dikelilingi oleh dinding tinggi. Keluar dari Umbul Pasiraman terdapat gapura yg lebih besar dan lebih indah lagi yang dinamakan Gedhong Gapuro Panggung.Umbul Pasiraman

Gapuro Gedhe

Dari sana perjalanan dilanjutkan ke Pasarean Dalem Ledok Sari, konon digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi sultan dan permaisurinya. Bangunan in berbentuk U dan terdiri dari tempat tidur sultan di bagian tengah, dapur, dan beberapa ruang penyimpanan dan untuk pelayan. Dan terdapat sumur yang katanya berkaitan mengenai urusan jodoh. Bangunan ini adalah bagian terakhir yang dikunjungi dalam Kompleks Tamansari. Keseluruhan bangunan yang ada dibangun menggunakan batu merah dan kapur, bahkan termasuk tempat tidur sultan. Pepaduan warna krem yang tampak monokrom sangat menonjolkan kesan elegan pada masanya. Saat ini bangunan tersebut masih dalam proses pemugaran berkelanjutan, termasuk lorong-lorong air yang beberapa sudah ditambahkan rangka baja di dalamnya. Menurut saya, dahulu tempat ini sangatlah bergengsi, jika dibayanagkan berapa luas seluruh kompleks peristirahatan ini dan betapa megah dan lengkapnya bangunan-bangunan yang ada, ditambah lagi denagn konsep pulau-pulau buatan yang dibawahnya terhubung oleh lorong-lorong bawah air. Kabarnya tidak ada yang boleh memasuki kompleks ini selain Sultan, permaisuri atau selir-selirnya, dan putri-putrinya, dikarenakan di dalam kompleks ini mereka aka berada dalam keadaan telanjang, maka tidak ada orang lain yang boleh melihat. Sebuah legenda mengatakan bahwa lorong-lorong tersebut bukan hanya untuk dilalui keluarga Keraton untuk menuju antar pulau, tetapi sebagai jalan masuk sang Ratu Pantai Selatan yang dikabarkan sebagai istri pertama dari Sultan Hamengkubuwono I.

 

2.2  Keraton Yogyakarta

 

Keraton utama dalam pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta, atau dengan kata lain merupakan kediaman dari Sultan Hamengkubuwono X. Di pintu masuk terdapat sebuah bangsal yang terlihat untuk tempat istirahatnya para pegawai dalam Keraton. Setelah masuk melalui gerbang untuk membeli tiket masuk dan izin memakai kamera, di dalamnya terdapat joglo lagi yang berukuran lebih besar, dan Nampak akan diselenggarakan penampilan dari penari-penari Keraton untuk disuguhkan kepada tamu-tamu Keraton. Di sekitar Joglo terdapat beberapa bangunan nan indah yang desainnnya seperti tercampur dengan desain dari Barat. Ada rumah berwarna putih dengan ornamen-ornamen berwarna emas, tempat ini merupakan kantor dari Sultan, namun sejak Sultan lebih sering bertugas di kantor Gubernur Yogyakarta, bangunan ini sudah jarang lagi digunakan. Di depan Joglo terdapat  bangsal kecil yang berhiaskan art deco bergambar alat-alat musik Eropa, dahulu tempat ini merupakan tempat bermain music ketika ada tamu dari Eropa yang berkunjung. Kemudian di seberang Joglo terdapat bangunan rendah satu lantai memanjang secara horizontal berwana dominan hijau yang digunakan sebagai tempat gamelan dimainkan ketika ada pertunjukan tari di Joglo. Masih di lahan yang sama terdapat pula tempat tinggal Sultan, pas ketika itu pukul sebelas pagi, saatnya diantarkan minum teh untuk Sultan dan sempat terlihat pegawai-pegawai dengan sangat anggun berjalan membawakan teh untuk Sultan.

Keluar dari area pelataran tersebut memasuki jalan masuk kecil dengan aling-aling berupa lambing kesultanan Hamengkubuwono yang kini memiliki sepuluh sayah di sekitar perisainya, menandakan bahwa sultang yang sedang memerintah adalah Sultan Hamengkubuwono X. Setelah melewati aling-aling, terdapat museum yang diperuntukan bagi Sultan Hamengkubuwono IX. Didalamnya terdapat benda-benda yang berkaitan langsung dengan sultan, mulai dari buku mengenai pemerintahan Keraton Yogyakarta dari Presiden Republik Indonesia, seragam yang biasa dipakai sultan, pengahargaan-penghargaan yang dimiliki sultan, peralatan masak, perangkat fotografi, serta hiasan-hiasan ruangan milik Sultan dipajang di ruangan ini. Termasuk pula foto-foto momen ketika Sultan masih hidup, seperti pelantikan Pramuka oleh Presiden Soeharto, ketika berkuda, dan sebagainya.

Joglo Keraton

Dari keseluruhan bangunan yang ada, warna dominan yang digunakan adalah hijau dengan penggunaan material kayu jati. Konsep void dan solid serta pembagian ruang privat-publik sangat terasa di dalam Keraton ini. Joglo yang diperuntukan bagi tamu terletak di bagian depan dengan bangunan yang bersifat void dikelilingi oleh ruang terbuka yang halamannya menggunakan pasir dan menggunakan umpak-umpak pada strukturnya. Sedangkan gedhong ataupun bangunan yang bersifat rumah tinggal terletak di bagian belakang dan sangat tertutup, dibangun dengan material batu. Baik joglo maupun gedhong memiliki detail sambungan yang sangatlah unik, pertemuan antar dua balok horizontal di tengah balok vertical. Keistimewaan lainnya dari Joglo adalah struktur atapnya yang diekspos dibiarkan terbuka dan sangat tinggi.

2.3  Masjid Agung Yogyakarta

 

Setelah memasuki waktu dzuhur, perjalanan dilanjutkan menuju Majid Agung yang terletak hanya sekitar duapuluhan meter dari Keraton dan tepat berada di depan alun-alun. Terdapat sebuah pintu masuk yang menyerupai gapura di depannya, setelah itu tedapat gerbang kecil yang membedakan jalan masuk perempuan dan laki-laki. Bangunan pertama yang dijumpai adalah joglo besar di depan bangunanutama masjid. Joglo biasa digunakan orang-orang untuk beristirahat atau sebagai perluasan wilayah dalam masjid ketika ada acara besar. Struktur joglo ini masih sama dengan yang terdapat di Keraton, namun yang menjadi lebihan adalah detail-detail ikuran yang terdapat di langit-langitnya. Ukiran tersebut sangat indah menggunakan warna dominan emas. Bagian dalam masjid pun sangat megah, dengan konstruksi kayu jati. Untuk wanita terdapat di bagian belakang kiri. Di bagian depan tengah masjid terdapat mihrab dan mimbar yang cukup besar berwarna coklat kayu jati dan mengkilap. Lantai bagian dalam masjid dan joglo menggunakan material batu marmer, sehingga ketika cuaca di luar panas, suhu di dalam masjid dan joglo masih terasa cukup sejuk dan nyaman.

 

Sebenarnya masih ada beberapa destinasi lagi yang seharusnya saya kunjungi, seperti Kampung Kauman dan Joglo UGM-menggantikan Masjid Agung Kota Gede-, namun karena masalah cuaca yang kurang mendukung dan tempat tersebut bukan tugas kelompok saya, maka saya urung mengunjunginya. Namun pada acara bebas di malam hari saya mengunjungi Jalan Malioboro dan Alun-Alun untuk menapak tilas perjalanan saya ke tempat ini setahun yang lalu. Sekian perjalanan saya dua hari di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s