my works / Thingy things

Perubahan pada Arsitektur Rumah Bali

Sebuah kajian Antropologi Arsitektur 

 

Kebudayaan Berdasarkan Kajian Antropologi

Kebudayaan di Indonesia merupakan hal yang dipegang teguh oleh penduduknya. Baik kebudayaan adat maupun beragama. Kebudayaan sendiri, banyak diartikan oleh berbagai ahli, misalnya menurut Edward B. Tylor “Kebudayaan merupakan suatu kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, kebiasaan, serta setiap kemampuan lain yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat”. Tiap provinsi memiliki ciri kebudayaan masing-masing, dimana salah satu yang masih dapat sering dilihat adalah kebudayaan masyarakat Bali. Menurut J.J. Honigmann terdapat 3 wujud kebudayaan, yaitu:

–          Ide : wujud kebudayaan dari suatu kompleks dari gagasan, norma dan nilai

–          Aktivitas : wujud kebudayaan dari kompleks aktivitas yang berpola

–          Artifak :wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia

Sedangkan menurut Samuel Koening, perubahan budaya berasal dari modifikasi-modifikasi yang terjadi pada pola kehidupan masyarakat.

Unsur Religi

                Arsitektur Rumah Tradisional Bali, merupakan suatu karya yang lahir dari suatu tradisi, kepercayaan dan aktivitas spiritual masyarakat Bali yang diwujudkan dalam berbagai bentuk fisik. Seperti rumah adat, tempat suci (tempat pemujaan yang disebut pura), balai pertemuan, dan lain-lain. Lahirnya berbagai perwujudan fisik juga disebabkan oleh beberapa faktor yaitu keadaan geografi, budaya, adat-istiadat, dan sosial ekonomi masyarakat.  Arsitektur Tradisional Bali merupakan kombinasi dari hubungan keseimbangan antara Bhuwana Agung (alam semesta, dunia yang lebih besar,) dan Bhuwana Alit (manusia, miniatur kecil). Arsitektur Tradisional Bali mendapat pengaruh campuran budaya Hindu, Cina Buddha, dan kebudayaan Megalitik.

Nawa Sanga adalah konsep 9 mata angin yang menjadi pedoman bagi kehidupan keseharian masyarakat Bali.Seperti halnya dengan mata angin arah utara – selatan yang di sebut Kaja – Kelod, dan timur–barat yang disebut kangin – kaluh. Hal ini sangat penting karena orientasi orang Bali terhadap Gunung Agung dan arah terbit matahari menjadi pedoman bagi perletakan pola perumahan pada umumnya.Utara melambangkan dewa Wisnu, selatan dewa Brahma, timur dewa Iswara dan barat dewa Mahadewa.

Sistem konstruksi pada arsitektur tradisional Bali mempertimbangkan konsep agama Hindu Bali yang dinamakan Tri Angga, yaitu sebuah konsep hirarki dari mulai Nista, Madya dan Utama.

Nista menggambarkan suatu hirarki paling bawah suatu tingkatan, yang biasanya diwujudkan dengan pondasi bangunan atau bagian bawah sebuah bangunan sebagai penyangga bangunan diatasnya. Atau bilah dalam tiang kolom. Materialnya dapat terbuat dari batu bata atau batu gunung. Batu bata tersebut tersusun dalam suatu bentuk yang cukup rapi sesuai dengan dimensi ruang yang akandibuat. Pada permukaan batu bata atau batu gunung dibuat semacam penghalus sebagai elemen leveling yang rata.Atau merupakan plesteran akhir.Nista juga digambarkan sebagai alam bawah atau alam setan atau nafsu.

Madya adalah bagian tengah bangunan yang diwujudkan dalam bangunan dinding, jendela dan pintu.Madya mengambarkan strata manusia atau alam manusia.

Utama adalah simbol dari bangunan bagian atas yang diwujudkan dalam bentuk atap yang diyakini juga sebagai tempat paling suci dalam rumah sehingga juga digambarkan tempat tinggal dewa atau leluhur mereka yang sudah meninggal.Pada bagian atap ini bahan yang digunakan pada arsitektur tradisional adalah atap ijuk dan alang-alang.

Pembagian zone utama, madya dan nista didasari bukan oleh sumbu hierarki yang vertikal, tetapi oleh tata nilai ritual dan orientasi kosmologis. Ada tiga buah sumbu yang digunakan sebagai pedoman penataan bangunan di Bali, sumbu-sumbu itu antara lain:

Sumbu kosmos Bhur, Bhuwah dan Swah (hidrosfir, litosfir dan atmosfir)

Sumbu ritual kangin-kauh (terbit dan terbenamnya matahari) berorientasi pada lintasan terbit dan terbenamnya matahari dengan arah kangin sebagai nilai utama (arah terbitnya matahari) dan arah kauh sebagai nilai nista (arah terbenamnya matahari), sedangkan nilai Madya ada di tengahnya.

Sumbu natural Kaja-Kelod (gunung dan laut).

Segala sesuatu yang dikategorikan bersifat suci dan bernilai sakral akan menempati letak di baian Kaja (utara) mengarah ke gunung seperti : letak pura, arah sembahyang, arah tidur dan sebagainya. Sebaiknya, segala sesuatu yang dikategorikan kurang suci dan bernilai profan, akan menempati letak bagian kelod (selatan), seperti : letak kuburan, letak kandang, tempat pembuangan sampah/ kotoran,dan sebagainya

Zona yang dianggap bernilai utama adalah arah kaja (menghadap gunung) dan kangin (Timur sebagai arah terbitnya matahari–sumber kehidupan), dan zone yang dianggap nista atau bernilai rendah adalah arah kelod (menghadap laut) dan kauh (Barat).

Dari sumbu-sumbu tersebut, masyarakat Bali mengenal konsep orientasi kosmologikal, Nawa Sanga atau Sanga Mandala yang akan dibahas pada subbab berikutnya. Transformasi fisik dari konsep ini pada perancangan arsitektur, merupakan acuan pada penataan ruang hunian tipikal di Bali.

Catuspatha adalah konsep ruang kosong di tengah-tengah pertemuan sumbu orientasi kosmologis (kaja-kelod) dan tata nilai ritual (kangin-kauh) pada pola ruang masyarakat tradisional Bali. Area pertemuan sumbu kaja-kelod dan kangin-kauh di tengah-tengah dibiarkan kosong karena nilai pusat dianggap kosong (pralina) sebagai simbol pusat kekuatan yang Maha Sempurna.

Penerapan konsep catuspatha pada pola ruang area rumah tinggal tradisional Bali adalah adanya ruang kosong (halaman tengah/inner court) di tengah-tengah sebagai area pertemuan sumbu kaja-kelod-kangin-kauh, yang pada area rumah tinggal disebut natah. Karena area pusat ini dinilai paling tinggi sebagai simbol yang Maha Sempurna, maka semua bangunan di zone arah kaja-kelod-kangin-kauh dibuat menghadap area tengah.Di masing-masing sudut perempatan, disediakan tanah kosong (Karang Tuang) seluas satu persil, yang berfungsi sebagai “ruang terbuka hijau”. Konsep ruang ini pada umumnya diterapkan pada pola ruang Desa.

 Konsep sangamandala adalah pengembangan dari kombinasi konsep TriAngga dan Catuspatha. Konsep sangamandala adalah pembagian ruang ke dalam 9 zone yang lahir dari aplikasi konsepTriAngga dalam bidang vertikal dan horisontal, di mana ruang di tengah-tengah sebagai pusat dan simbol sumber kekuatan dibiarkan kosong (konsep catuspatha).

KonsepTriAngga membagi bidang atau sumbu vertikal orientasi kosmologis kaja-kelod dalam 3 zone ruang: utama, madya dan nista, sementara bidang atau sumbu horisontal orientasi tata nilai sakral kangin-kauh juga dibagi dalam 3 zone ruang: utama, madya dan nista. Kombinasi pembagian bidang vertikal dan horisontal ke dalam 3 zone ruang yang hirarkis, secara keseluruhan, menghasilkan 9 zone ruang. Kesembilan bagian tersebut merangkum semua kegiatan sosial, ekonomi, spiritual, budaya dan keamanan, yang menjadi satu-kesatuan utuh dan saling berhubungan pada masing-masing anggota keluarga di rumah tersebut.Artinya seluruh kegiatan keluarga dapat dilakukan dalam satu lingkungan rumah di dalam penyengker yang cukup luas.

Konsep ruang Sanga mandala adalah konsep ruang yang dibagi menjadi sembilan bagian area (pah pinara sanga sesa 1, 2, 3, dst.), artinya ruang dibagi sembilan dan disisakan satu, dua, atau tiga bagian, dan seterusnya pada bagian luar sebelah kiri. Bagian ini dikelompokkan menjadi 3 bagian besar, yaitu: Nista, Madya dan Utama.

a. Nista, merupakan area tiga kelompok ruang yang berada di sebelah kiri, meliputi bangunan

kandang dan angkul-angkul, serta sebagian bale dauh dan paon.

b. Madya merupakan area ruang untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti untuk melakukan upacara adat dan keagamaan. Kelopok ruang madya yang merupakan ruang bagian tengah, meliputi bangunan tempat suci Penunggun Karang, natah (halaman), jineng (lumbung) dan bangunan angkul-angkul (pintu keluar-masuk halaman).

c. Utama merupakan area ruang tempat suci (sanggah/ merajan).

 Sistem Pengetahuan

Beberapa bagian dari gaya Eropa juga dapat ditemukan dalam Arsitektur Bali. Proporsi Pengukuran rumah adat Bali tidak menggunakan ukuran Skala Internasional, seperti cm atau meter. Dengan sistem kepemilikan rumah tradisional Indonesia yang berdasarkan kepemilikan, rumah adat Bali menggunakan ukuran rumah dengan skala pemilik rumah lelaki, serupa pula pada peletakan ruang yang menggunakan orientasi tubuh laki-laki.

Karena bangunan merupakan bangunan dari penghuni. Dengan simbolisasi atap sebagai kepala, kolom sebagai badan, dan kaki kolom atau dasar bangunan sebagai kaki. Semua elemen bangunan tersebut diukur berdasarkan ukuran tubuh sang pemilik rumah lelaki, yang diukur dengan ukuran, depa, hasta, jengkal, dsb. Dimaksudkan untuk kenyamanan sang penghuni.

Arsitektur tradisional Bali tidak terlepas dari keberadaan Asta Kosala – Kosali yang memuat tentang aturan-aturan pembuatan rumah atau puri dan aturan tempat pembuatan ibadah atau pura. Dalam asta kosala-kosali disebutkan bahwa aturan-aturan pembuatan sebuah rumah harus mengikuti aturan aturan anatomi tubuh sang pemilik rumah.

Dalam asta kosala-kosali terdapat ukuran-ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran jari-jari si pemilik rumah yang akan menempati rumah tersebut. Seperti Musti, yaitu ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas. Hasta untuk ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewasa dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka. Depa untuk ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan.

Penerapan konsep Tri Angga pada pola ruang pemukiman, yaitu di teritorial rumah tinggal dan bangunan arsitektur adalah sebagai berikut:

Dalam tata ruang area rumah tinggal, utama angga adalah pelataran pemerajan atau tempat sembahyang yang dianggap suci, madya angga adalah lokasi massamassa bangunan tempat tinggal, nista angga adalah teba, yaitu area kandang hewan, tempat pembuangan sampah/kotoran rumah tangga lainnya.

Pada bangunan, utama angga atau yang dianggap kepala adalah bagian atap (rab), madya angga adalah “badan” bangunan (pengawak), dan nista angga adalah “kaki” bangunan (bebataran).

Pada bidang vertikal, seperti pada bangunan dan manusia, dengan mudah dilihat bahwa utama angga adalah bagian atas (kepala), madya angga adalah bagian tengah (badan), dan nista angga adalah bagian bawah (kaki).

Perumahan tradisional Bali juga memiliki konteks kehidupan pribadi dan masyarakat serta pantangan-pantangan.Dalam konteks pribadi seperti halnya menentukan dimensi pekarangan dan proporsi bangunan memakai ukuran bagian tubuh penghuni/kepala keluarga, seperti tangan, kaki dan lainnya. Beberapa nama dimensi ukuran tradisional Bali adalah : Astha, Tapak, Tapak Ngandang, Musti, Depa, Nyari, A Guli serta masih banyak lagi yang lainnya.

 

Unsur Kesenian

Sebuah rumah tradisional Bali terdiri bangunan yang memiliki fungsi berbeda, yaitu:

ANGKUL-ANGKUL

Angkul-angkul adalah gerbang/pintu masuk dengan atap sebagai penghubung kedua sisinya. Angkul-angkul memiliki atap piramida yang terbuat dari rumput kering.  Angkul-angkul biasanya lebih tinggi dari dinding yang mengelilingi rumah.

ALING-ALING

Aling – aling adalah semacam tembok sekat  dari batu setinggi kurang lebih 150 cm, yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga untuk memasuki rumah harus menyamping ke arah kiri dan saat keluar nanti melalui sisi kanan dari arah masuk. Ini mempunyai tujuan agar pandangan dari luar tidak langsung bisa melihat apa yang ada di dalam.

METEN / BALE DAJA

Bale Meten terletak di bagian Utara (dajan natah umah) atau di sebelah barat tempat suci/ Sanggah. Bale Meten ini juga sering disebut dengan Bale Daja, karena tempatnya di zona utara (kaja). Fasilitas desain  interiornya  adalah 2 buah bale yang terletak di kiri dan kanan ruang. Bentuk  bangunan  Bale  Meten  adalah  persegi  panjang,  dapat  menggunakan  saka/tiang  yang terbuat dari kayu yang berjumlah 8 (sakutus), dan 12  (saka roras). Fungsi Bale Meten adalah untuk tempat tidur orang tua atau Kepala Keluarga di bale sebelah  kiri.  Sedangkan di bale sebelah kanan difungsikan untuk ruang suci, tempat sembahyang dan tempat menyimpan alat- alat upacara.

Sebagaimana dengan bangunan Bali lainnya, bangunan Bale Meten adalah rumah tinggal yang memakai  bebaturan  dengan  lantai  yang  cukup  tinggi  dari  tanah  halaman  (±75-100  cm). Bangunan ini adalah  bangunan yang memiliki tempat tertinggi pada seluruh bale dalam satu pekarangan disamping untuk menghindari terjadinya resapan air tanah.

BALE SAKEPAT

Bale Sakepat adalah  bangunan dengan jumlah tiang empat dan dipergunakan untuk kamar tidur anak.

BALE SAKENEM / DEMI ENEM

Jumlah tiangnya enam. Fungsinya sama dengan Bale Sakepat.

BALE DANGIN / BALE GEDE

Bale Dangin terletak di bagian Timur atau dangin natah umah, sering pula disebut dengan BaleGede  apabila  bertiang  12.  Fungsi  Bale  Dangin    ini  adalah  untuk  tempat  upacara  dan  bisa difungsikan sebagai tempat tidur. Fasilitas pada bangunan Bale Dangin ini menggunakan 1 bale- bale dan kalau Bale Gede menggunakan 2 buah bale-bale yang terletak di bagian kiri dan kanan. Bentuk  Bangunan  Bale  Dangin   adalah  segi  empat  ataupun  persegi  panjang,  dan  dapat menggunakan  saka/tiang  yang  terbuat  dari  kayu   yang  dapat  berjumlah  6  (sakenem),  8 (sakutus/astasari), 9 (sangasari) dan 12 (saka roras/Bale Gede). Bangunan Bale Dangin adalah rumah tinggal yang memakai bebaturan dengan lantai yang cukup tinggi dari  tanah halaman namun lebih rendah dari Bale Meten. 

PAMERAJAN

Pamerajan adalah kuil yang didedikasikan untuk berdoa kepada Tuhan dan leluhur keluarga.Terletak di daerah Utama (sisi timur laut) dari rumah, seperti yang diceritakan pada konsep Tri Mandala.

BALE DAUH

Bale Dauh ini terletak dibagian Barat (Dauhnatahumah), dan sering pula disebut dengan Bale Loji, serta Tiang Sanga. Fungsi Bale Dauh  ini adalah untuk tempat menerima tamu dan juga  digunakan sebagai tempat tidur anak remaja atau anak muda. Fasilitas pada bangunan Bale Dauh ini adalah 1 buah bale-bale yang terletak dibagian dalam. Bentuk Bangunan Bale Dauh adalah persegi panjang, dan menggunakan saka atau tiang yang terbuat dari kayu. Bila tiangnya berjumlah 6 disebut sakenem, bila berjumlah 8 disebut            sakutus/astasari, dan bila tiangnya bejumlah 9 disebut sangasari. Bangunan Bale Dauh adalah rumah tinggal yang memakai bebaturan  dengan lantaiyanglebih rendah dari Bale Dangin serta Bale Meten.

       PAON

Dapur (Paon) terletak di sisi selatan rumah milik daerah Nista, karena merupakan tempat di mana keluarga menyimpan peralatan untuk menyembelih hewan dan menebang pohon, termasuk pisau, kapak, dll.Paon terdiri dari dua bagian, bagian pertama disebut Jalikan, yaitu area terbuka yang digunakan untuk memasak dengan oven kayu api. Bagian kedua adalah sebuah ruangan di mana makanan dan peralatan memasak lainnya disimpan.

JINENG / LUMBUNG

Jineng / Lumbung adalah gudang beras.Gudang ini terletak di belakang Demi Enem, didekat Paon (dapur).Jineng / Lumbung diposisikan lebih tinggi dari bangunan lainnya.

Wawancara dengan dosen yang melakukan riset mengenai rumah Bali (Dr. Eng. Bambang Setia Budi, S.T, M.T.)

  1. Konsep arsitektur rumah Bali yang diterapkan menggunakan prinsip agama Hindu, bahwa dewa terdapat di tempat yang tinggi (Gunung). Dalam hal ini Gunung Agung dianggap sebagai orientasi Utama. Maka terdapat penzonaan berdasarkan Tri Angga, yang disebut Nawa Sanga, yakni Utama, Madya, dan Nista. Dimana Utama adalah tempat yang dianggap suci, sehingga diperuntukan sebagai tempat peribadatan (Pamerajan). Madya berhubungan dengan kehidupan manusia. Sedangkan Nista merupakan tempat yang dianggap kotor, misalnya kandang babi. Ditinjau dari unsur kesenian, terdapat dua warna khas yang tetap dipertahankan pada rumah Bali. Yaitu warna bata dan warna batu andesit, serta adanya patung karakter dari legenda Hindu dan ukiran di beberapa bagian rumah seperti atap dan pintu. Dari unsur hukum, tinggi bangunan yang didirikan di Bali tidak boleh melebihi tinggi pohon kelapa (sekitar 10 hingga 12 meter), sebab ketinggian pohon kelapa direpresentasikan sebagai tinggi pura utama di Bali, yaitu Pura Besakih. Pembangunan rumah Bali harus dipimpin oleh Undagi (Arsitek tradisional Bali), dan dikerjakan oleh tukang dari Bali.
  2. Adanya perubahan gaya hidup yang lebih modern ketika pemilik rumah memiliki kendaraan bermotor, maka terjadi perubahan pada bentuk rumah Bali, seperti ditiadakannya undakan dan aling-aling di pintu masuk. Kemudian dengan keterbatasan lahan yang ada saat ini, pembangunan rumah Bali tidak lagi dipisah per-ruang, namun digabungkan dalam satu bangunan yang monolit. Saat pembangunan rumah, pengukuran tetap menggunakan ukuran skala bagian tubuh dari pemilik rumah laki-laki, dan tetap harus dipimpin oleh Undagi.

Mahasiswa dari Bali yang berkuliah di ITB (Putu Agus – Teknik Geofisika 2011)

  1. Konsep arsitektur rumah Bali, masih mengacu pada Agama Hindu, seperti pembagian tiga tahapan halaman rumah, yaitu Nistamandala yang merupakan halaman rumah, Madyamandala merupakan teras rumah, dan Utamamandala yang merupakan bagian dalam rumah. Terdapat orientasi Kaja-Kelod (Gunung-laut). Pura selalu menghadap ke tempat tinggi (Gunung Agung). Rumah tidak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa (10-12 m). Namun tinggi pura menyamai tinggi pohon kelapa. Dalam pembangunannya selalu diadakan upacara adat, seperti peletakan batu pertama.
  2. Keterdapatan pamerajan tetap dipertahankan, hanya lokasinya saja yang dipindahkan di paling atas atau depan bangunan, serta warna bangunan yang berwarna bata dan ornamen berupa patung dari legenda Hindu. Terdapat ornamen khusus di pojok-pojok rumah Bali masa kini.

Mahasiswa dari Bali yang berkuliah di ITB (Gede Darma Raharja – Teknik Geologi 2009)

  1. Konsep arsitektur rumah Bali mendapat pengaruh dari Agama Hindu, misalnya saja pembangunan rumah yang dibuat undakan seperti gunung, karena dewa berada di gunung. Patokan gunung di Bali adalah Gunung Agung sedangkan di Jawa adalah Gunung Semeru. Konsep arsitektur yang diketahui ada tiga, yaitu utama, mandala, dan nista. Bergantung kepada agama, misalnya saja pembagian ruang untuk aktivitas tertentu.
  2. Bagian dari rumah Bali yang masih bisa dipertahankan saat ini adalah gapura, yaitu tempat masuk yang melambangkan gunung dan patung yang berguna untuk menjaga pintu masuk ke gunung. Selain itu, terdapat konsep Seka4 yang menunjukan 4 arah mata angin, yang dulunya digunakan sebagai tempat berkumpul, dengan tinggi sekitar 2 atau 3 meter, dan diatasnya terdapat lumbung dan terpisah di luar rumah.

 

Simpulan

  1. Konsep arsitektur rumah Bali berdasarkan pada kepercayaan agama Hindu Bali dan proses pembangunan dipercayakan kepada Undagi melalui berbagai ritual keagamaan.
  2. Orientasi utama masyarakat Bali adalah Gunung Agung, maka terdapat konsep Triangga yaitu Utama, Madya dan Nista. Utama menghadap gunung sehingga diperuntukkan sebagai tempat ibadah, Madya diperuntukkan sebagai tempat aktivitas manusia dan Nista diperuntukkan sebagai tempat kandang babi.
  3. Ciri khas dan simbolisasi yang masih dipertahankan pada bangunan rumah Bali adalah warna bata dan batu andesit pada bangunan rumah, letak Pamerajan yang berada di depan atau paling atas bangunan, bagian bangunan tertinggi pada rumah selalu berada di bawah ketinggian pohon kelapa, dan ornamen yang berasal dari legenda Hindu.
  4. Perubahan yang terjadi pada arsitektur rumah Bali yaitu tidak adanya undakan dan aling-aling yang ada di pintu masuk serta pembangunan rumah Bali tidak lagi dipisah per-ruang, namun digabungkan dalam satu bangunan yang monolit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s