Thingy things / WANDERLUST

(RNCBY Part 1) From Dago to Rancabuaya

Sudah sekitar sebulan perjalanan ini direncanakan, dengan bermodalkan blogwalking. Berikut ini road trip dari Dago, Bandung menuju Pantai Rancabuaya, Garut Selatan.

23 Agustus 2012 sekitar pukul setengah 7 pagi saya dan pasangan saya berangkat menuju Pantai Rancabuaya dari kostan saya di daerah Dago Bandung. Sebenarnya saya merasa tidak enak dengan pasangan saya, karena rumahnya terletak di Selatan Bandung namun harus ke tengah kota hanya untuk menjemput saya, padahal perjalanan kami akan mengarah ke Selatan Bandung.

Jalur berangkat kami yakni:

Bandung-Baleendah-Banjaran-Pangalengan-Cisewu-Rancabuaya

Menurut kabar yang kami dapat dari berbagai sumber di internet, jalur ini memang agak ‘menantang’ dengan lama waktu tempuh sekitar 5 jam. Saya memang sudah sangat terbiasa melalui jalur darat sejak kecil, tapi untuk naik motor perjalanan ini adalah kali pertama bagi saya. Karena saya berpikir akan ke “pantai”, maka yang ada di benak saya adalah suatu tempat yang disinari matahari, jadilah saya berangkat hanya mengenakan cardigan dan bukan jaket.

Perjalanan masih baik-baik saja ketika sampai di Baleendah, daerah Selatan Bandung, udara masih sangat sejuk karena masih cukup pagi, jalanan juga masih sangat lowong. Ketiksa sudah keluar dari Kota Bandung, mulai melewati banyak sawah, rumah-rumah mungil dan pertokoan kecil, sangat berbeda dengan lingkungan tempat saya kost  yang hanya ada Factory Outlet dan Circle K di sepanjang jalan. Lingkungan di sini masih sangat asri, mungkin kalau mau jalan-jalan mencoba lumpur sawah sambil menanam padi bisa mencoba di sini.

Pasangan saya terus melaju motor kesayangannya. Masih pada lingkungan yang agak mirip, rumah-rumah kecil di sepanjang jalan. Tapi pasangan saya sudah mulai kehilangan arah dan hanya mengandalkan petunjuk jalan berwarna hijau yang biasa dikeluarkan oleh DLLAJ. Ada perbedaan mengenai gaya rumah-rumah kecil yang ada di daerah ini, semuanya merupakan sisa-sisa rumah tinggal para ABRI pasukan Siliwangi. Semuanya berwarna coklat muda nuansa army, kaca fasade hancur sperti dilempari batu, pintu rumah di-pylox, kayu-kayu dan genteng sudah rapuh, halaman yang ditumbuhi rumput liar. Hanya sedikit yang masih bertahan tinggal di tempat ini. Rumah-rumah mungil ini mungkin tipe 21 dan tanpa tanah lebih lagi, tidak seperti ukuran rumah yang ada di komplek-komplek kebanyakan, seperti kontrakan petak di daerah kampung kota-kota besar.

Sampai kami di sebuah persimpangan jalan, terdapat sebuah tugu di tengahnya. Tak ada papan patunjuk arah jalan lagi, mengandalkan feeling, pasangan saya memilih jalan lurus. Sudah jauh sekali kami jalan dan baru menemukan papan panunjuk arah jalan sekitar 2 km dan keterangan yang kami dapat adalah kami hanya memutari daerah Selatan Bandung dan bukan lanjut ke Banjaran. Kesimpulannya adalah “kami nyasar di Baleendah”. Akhirnya kami berhenti di sebuah pangkalan ojek untuk bertanya, dan benar sekali, semestinya kami belok kanan ketika bertemu persimpangan Tugu tadi.

Kemudian kami berbalik untuk ‘mengoreksi’ kesalahan perjalanan yang telah kami tempuh. Setelah itu papan penunjuk arah jalan terus melengkapi perjalanan kami sebagai ‘tour guide‘. Tak terasa hari sudah semakin siang, matahari makin menyinari perjalanan kami, dan bensin si Biru sudah hampir habis. Lingkungan yang kami lewati pun sudah mulai berubah ‘bentuk’-nya. Dari yang sebelumnya seperti pedesaan, kali ini seperti kota yang setengah jadi. Jalan-jalan beton ada yang sudah agak hancur, ada jalanan yang diramaikan oleh pedagang-pedagang pasar. Ternyata kami sudah ada di pinggir Banjaran dan menuju Pangalengan, kami berhenti sejenak untuk mengisi bensin dan meluruskan badan. Baleendah dan Banjaran hanyalah nama sebuah ruas jalan yang lingkungannya mirip, jadi memang agak sulit menandakannya sudah sampai mana.

Perjalanan terus berlanjut. Kini jalanan lebih ‘menantang’, medan jalan berbukit-bukit, seperti daerah Puncak, Bogor. Kecerobohan saya pun mulai terasa ketika sayang mulai merasa kedinginan. Saya lupa menanyakan medan yang akan ditempuh pada pasangan saya. Lengkaplah sudah gigi saya sampai gemeretakan, bibir saya kering, energen panas yang saya bawa sampai dingin, tangan saya sulit bergerak. Pasangan saya yang sudah pakai jaket tebal saja tetap kedinginan. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak, demi meluruskan dan bergerak-gerak sedkit. Tubuh kami berdua mulai mati rasa. Agak berlebihan memang kedengarannya. Saya memakai lipbalm agar bibir saya agak ‘terselimuti’ dari suhu yang menusuk ini dan menghabiskan energen yang saya bawa agar tidak masuk angin karena saya belum sarapan sama sekali.

Perjalanan dilanjutkan lagi dan medan sudah tidak berbukit-bukit lagi, tapi agak berbelok-belok. Tak lama, kami menemukan Situ Cileunca, sebuah situ yang sangat terkenal untuk tujuan wisata alam daerah Bandung Selatan. Situ ini sangat besar kalau menurut saya (karena saya membandingkan dengan situ-situ buatan di kota tempat saya dibesarkan, Depok). Dan karena saya phobia air yang gelap dan ikan-ikan besar, melihatnya dari motor yang masih melaju saja sudah membuat saya sangat ketakutan. Niat awal kami yang ingin berhenti sejenak menikmati berbagai wisata alam, termasuk Situ Cileunca ini pun batal karena phobia yang sudah saya miliki sejak kecil ini.

Sampai kami di sebuah jalan dengan pintu masuk “Ibu Kota Kecamatan Cisewu”. Jalanan setelah tulisan itu sangatlah menyeramkan, menantang adrenalin mungkin bagi para penggemar off-road. Ternyata ini adalah jalan yang orang-orang-internet- sebut untuk dihindari ketika hujan. Jalannya sangat sempit, hanya muat dua mobil dan sebenarnya yang satunya harus mengalah untuk memojok ketika yang satunya lagi akan lewat. Bebatuan di sepanjang jalan, sebelah kiri adalah dinding tanah yang rawan longsor dan memberikan lumpur ke jalanan ketika hujan, dan di sebelah kiri jalan adalah jurang. Harus banyak-banyak berdoa ketika melalui jalan ini.Tegang sekali saya, apalagi kami seperti ‘kawin lari’, padahal hanya mau berjalan-jalan.

Dan entah mengapa, jalanan Cisewu ini merupakan jalur yang saya rasakan berjarak paling jauh dibandingkan dengan jalan yang lain. Namun tak selamanya kami ‘dipanggil’ oleh jurang, ada kalanya suatu daerah tempat orang bermukim. Rumah-rumah kecil berkolong dengan cat full-block warna pastel. Rumah itu beratap limas. Mungkin warna cat itu merupakan salah satu metode modernisasi dari rumah tradisional Sunda ini. Hanya ada beberapa rumah di sini, mungkin tidak sampai tiga puluh.

Selalu rumah yang menjadi daya tarik saya selama perjalanan ini. Tapi pemandangan alam tidak kalah menarik. Setelah melewati perjalanan singkat melalui perkampungan Sunda itu, jalanan mulai lurus, kanan-kiri jalan mulai kosong dari hutan, hanya ada hamparan pemandangan langit biru yang indah dan pemandangan bukit-bukit di seberang bukit yang kami pijak sekarang. Harapan kami sudah sangat besar bahwa sebentar lagi kami akan melihat pantai di depan mata kami.

Setelah beberapa jam kami menebak bukit mana yang terakhir, barulah kami menemukan pohon-pohon kelapa di samping jalanan yang lurus dan datar. Tapi kami hampir nyasar lagi, karena saya kira seperti di Anyer yang akan melewati banyak penginapan di sepanjang jalan utamanya. Setelah bertanya (lagi), kami memutar balik dan menemukan pitu masuk bertuliskan “OBYEK WISATA PANTAI RANCABUAYA”.

Bukan main bahagianya kami melihat tulisan itu. Dengan membayar tiket dewasa Rp 3.000,00/orang dan sepeda motor Rp 1.000,00 untuk sekali masuk dan mungkin untuk selama-lamanya berada di dalam kawasan ini. Kawasan Rancabuaya ini sangat berbeda dengan kawasan pantai lainnya di Pulau Jawa, seperti Anyer atau Pelabuhan Ratu yang pantainya berada setelah masuk ke penginapan. Di sini, dengan membayar biaya retribusi tempat rekreasi yang lcukup murah, kamu sudah dapat menggelar tikar untuk berpiknik dan bermain di pantai.

Dari sepanjang garis Pantai Ranbuaya ini hanya sekitar 25% saja yang layak untuk dipakai berenang, bukan karena kotor seperti di Pantai Ancol, tetapi pantainya berkarang. Jadi daripada lecet-lecet, sebaiknya ke tempat non-karang. Di depan pantai banyak penginapan tersedia, mulai dari cottage sampai homestay pun berjejer di sepanjang jalanan berpasir putih itu.

Karena lelah dan ingin bebersih badan dulu, saya dan pasangan saya memutuskan untuk mencari penginpan terlebih dahulu. Beberapa penginapan kami datangi untuk menayakan biaya sewa satu malamnya. Jelas penginapan paling depan dan homestay sudah masuk dalam blacklist kami, karena penginapan yang paling depan itu nampak mahal (mungkin kalau bersama orang tua dan keluarga besar saya mampu di sana, tapi kali ini hanya kami berdua yang masih kuliah saja yang membayar jelas tidak mampu) dan homestay nampak gelap dan kotor, mungkin untuk para cowok-cowok yang tidak peduli soal kenyamanan bisa memilih homestay tersebut.

Terdapat cottage kelas menengah yang menjadi sasaran kami, namanya Jaya Sakti. Ada Jaya Sakti I, Jaya Sakti II, dan Jaya Sakti III. Dari ketiga penginapan itu, kami memilih Jaya Sakti III, walaupun lokasinya berada di paling ujung dari penginapan Jaya Sakti lainnya, namun harganya paling murah. Per malamnya Rp 300.000,00 dengan fasilitas fan, tv, kamar mandi dalam, dan minuman. Penginapan ini bersih dan recommended  bagi kamu yang masih mengutamakan penginapan bersih dengan budget terbatas. Saran sedikit dari saya, sebaiknya tidak perlu memilih yang ber-AC karena udara di dalam kamar sudah cukup sejuk dengan fan, daripada kamu masuk angin.

Di sekitar penginapan banyak rumah makan yang menjual seafood, ada juga pasar seafood, tapi menurut saya itu hanya toko-toko yang menjual seafood, bukan seperti di Pelabuhan Ratu yang memang terdapat pasar ikan. Di depan penginapan Jaya Sakti III terdapat sebuah restoran kecil yang menjual berbagai macam seafood.

 
sekian dulu ya ceritanya, maaf tidak ada dokumentasi, nanti insyaAllah disambung ke part 2-nya. Saya di sana cuma sebentar, berhubung lusanya mau pergi lagi ke tempat berbeda (akan ada di posting selanjutnya).

Selamat menikmati Indonesia !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s