Thingy things / WANDERLUST

[explore BDG] Bandung Selatan

Bandung Selatan, bisa dimulai dari Kopo atau Cibaduyut. Tapi kali ini saya akan membahas wisata alam di Kabupaten Bandung atau selatannya Kota Bandung. Di daerah Bandung Selatan terdapat tiga buah gunung yang membagi lokasi objek-objek wisata menjadi cukup jauh. Dalam post ini, saya akan menceritakan berdasarkan letak gunungnya, sehingga dapat memudahkan Anda yang ingin berwisata alam di daerah Bandung Selatan.

Sebenarnya ada alasan mengapa saya melakukan pembagian wilayah itu. 24 Desember 2012, saya pergi ke Bandung Selatan dengan tujuan utama Kawah Putih. Setelah blogwalking, ternyata ada banyak objek wisata lainnya di Bandung Selatan. Namun setelah adanya beberapa pengalaman nyasar, saya akhirnya tahu kalau objek wisata yang dekat dengan Kawah Putih hanyalah Situ Patengang dan Pemandian Air Panas Cimanggu, serta beberapa desa wisata.

Jadi, readers di bawah ini daftar gunung beserta obyek wisata yang ada di sana:

sebelum menuju ke tiga gunung tersebut, nanti di Kamasan, Banjaran,  Anda akan bertemu dengan percabangan jalan, ke kanan mengarah ke Soreang-Ibu Kota Kabupaten Bandung (Ciwidey, Gn. Patuha, Kawah Putih), ke kiri mengarah ke Pangalengan (Situ Celeunca, Gn. Puntang) dan Gn. Malabar.

Gunung Patuha. 

Ini adalah sebuah roadtrip menggunakan motor, dari Dago sampai Kawah Putih selama 4 jam, bukan jaraknya yang terlalu jauh, tapi sempat beberapa kali kesasar dengan jarak yang cukup jauh. Perjalanan menuju Jalan Raya Ciwidey, Ranca Bali (jalan utama yang menghubungkan semua objek wisata di daerah Ciwidey), jalan ini sangat panjang dan pastinya menanjak. Jalan Raya Ciwidey dapat Anda capai dengan melewati Jalan Raya Soreang terlebih dahulu (kanan-kiri jalan adalah sawah) sampai dengan pertigaan (orang sekitar menyebutnya parapatan tilu), pilih ke arah kiri (Ciwidey). Dari Kamasan sampai kawasan Gunung Patuha sekitar 1.15 jam.

Kawah Putih ialah salah satu kawah dari Gunung Patuha yang ditemukan oleh Junghun (Biologist asal Belanda) dengan kandungan belerang yang sangat tinggi (sampai saat ini, sebenarnya pengunjung tidak boleh berada terlalu lama di sekitar goa dan kawah). Pesona alam yang sangat indah nampak dari “Negeri di Atas Awan” ini. Hamparan pasir batu apung berwarna gradasi krem, pink, putih, dan abu-abu, pantulan warna air kawah kebiruan, dan awan yang kerap menutupi daerah kawah membuat kita serasa berada di atas awan. Kawah ini dikelilingi oleh pepohonan Cantigi, yakni suatu spesies tanaman unik yang saya kira hanya terdapat di Kawah Putih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biaya yang diperlukan :

Rp 17.000,00/orang (HTM) + Rp 10.000,00/orang (Ontang-Anting)

Rp 5.000,00/sepeda motor

Rp 5.000,00/masker penutup hidung

Saya lebih menyarankan untuk menaiki Ontang-anting bagi Anda yang membawa mobil, karena perhitungannya jadi lebih murah. Dan untuk motor, tidak diperbolehkan untuk naik ke atas, mengingat medannya yang terlalu berat karena jarak pandang yang terbatas. Saran saya juga sebaiknya Anda menggunakan masker, karena ada kalanya belerang tiba-tiba menguap, tapi untuk sekedar berfoto ya dilepas tak apa lah. Beberapa hasil tangkapan kamera saya:

Goa Belanda, konon gas belerang menguap dari sini, jadi dilarang berlama-lama berada di dekatnya

Riwayat Kawah Putih, sedikit sejarah sebelum berjalan menuju pusat kawah

Deretan Pohon Cantigi dan Gradasi Kawah

Saung Kecapi, dimainkan oleh seorang bapak yang kekurangan fisiknya

Desa Wisata. Ada tiga buah desa wisata di sepanjang jalan Ranca Bali sebelum ke Kawah Putih. Kebetulan saya sempat mengunjungi salah satu desa di sana, dan I got nothing. Sepanjang jalan kecil hanya rumah dan kebun dengan jalan yang seadanya. Kalau baca di baligho sebelum memasuki wilayah desa ini katanya ada pusat kerajinan tangan, tetapi setelah masuk tidak ada petunjuk apapun.

Situ Patengang, dari Jalan Raya Rancabali akan ada tikungan dan pilihlah ke arah kanan (terdapat penunjuk jalan). Setelah melewati Kawah putih, beberapa pemandian air panas, Taman Wisata Rancaupas, dan kebun teh Rancabali akan terlihat secercah harapan (hehe). Perairan darat ini akan mulai terlihat seperti teluk kecil dan sudah cukup indah bagi saya, terlebih ketika saya mengunjunginya di saat agak mendung sehingga kabut memberi efek dramatis yang membuat pemandangan danau yang belum apa-apa ini menjadi apa-apa.

Beberapa meter kendaraan terus melaju dan mata terus berkelana mencari yang bisa memanjakannya. Akhirnya bertemulah saya dengan perairan yang begitu luas dan dikelilingi pegunungan rendah. Setelah melewati area parkir, deretan kios kios kecil yang pedagangnya getol menawari barang dagangannya menyambut saya. Setelah itu barulah saya memijakan kaki di sebuah daratan kecil yang seperti pulau dengan jalan setapak mengelilinginya, saya menikmati pemandangan dan hawa yang sejuk sembari mengambil beberapa jepretan foto. Di Situ ini berlalulalang perahu kecil, sepeda air, dan bebek-bebekan. Yang awalnya aku pikir Situ ini hanyalah danau seadanya ternyata salah besar, disediakan beberapa gazebo yang cukup besar untuk duduk-duduk sambil menikmati pemandangan. Air yang memberi lekukan beragam pada daratannya memberi kesan bahwa danau ini memiliki pulau-pulau. Selain ‘pulau’ ini juga ada satu pulau lainnya yang menjadi tujuan orang-orang yang naik perahu, di ‘pulau’ tersebut terdapat Batu Cinta. Saya tidak sempat berkunjung ke sana karena antrean bebek air (kebetulan saya maunya naik itu) yang panjang dan keburu hujan deras, tetapi dari yang saya dengar agak norak juga batu itu. Hanya batu yang dicoret-coret “budi love citra” ya semacam itulah.

Danau ini berhasil menyegarkan mata dan pikiran saya yang mumet karena studio. Betul-betul cantik.

 

Biaya yang diperlukan:

Sepeda motor Rp

Pengunjung Rp

Sepeda Air Rp 30.000/jam

Penginapan. Di sepanjang Jalan Raya Ciwidey, Ranca Bali terdapat banyak sekali pilihan penginapan, mulai dari cottage dengan tarif keluarga (you know what I mean), hotel melati, losmen, dan homestay. Salah satu penginapan yang saya rekomendasikan adalah “Penginapan Nugraha” terletak di kanan jalan (mengarah ke atas gunung) dengan tarif sewa peak season Rp 200.000 (kamar mandi dalam, tv, double bed, dan air panas) dan Rp 250.000,00 (kamar mandi dalam dengan bath tubetwin bed, tv, dan air panas), serta fasilitas minum teh/kopi serta air panas dengan termos yang panasnya bisa tahan sehari semalam.

tunggu cerita selanjutnya
Gunung Puntang. 
Gunung Malabar.

Rute menuju gunung ini sebenarnya dekat, tapi salah saya yang mengandalkan Google Maps yang akhirnya membuat saya dan pasangan saya kesasar 5 jam naik motor. Jadi arah menuju gunung ini sebenarnya hanya berbeda saat di Banjaran saja, terdapat percabangan jalan, untuk ke Gn. Patuha & Gn. Puntang ambil lurus (kanan), sedangkan ke Gn. Malabar pilih yang ke kiri. Tujuan awal saya ke sini ingin mengetahui sebagian sejarah hidup Bosscha dan ke pemandian air panas. Nah tapi bukan rumah tua Bosscha yang saya dapat melainkan pegunungan dengan hamparan perkebunan tehnya yang sangat luas. Di kejauhan juga nampak beberapa turbin geothermal kawah Cibolang, sumber air panas itu juga dimanfaatkan untuk sarana rekreasi pemandian air panas Cibolang, lumayan rapih tempatnya mengingat lokasinya yang sangat terpencil dan jarang diketahui orang, tetapi karena sangat sepi saya mengurungkan niat saya ke sana.

Tidak seperti Gn. Patuha yang memiliki berbagai pilihan obyek wisata, di sini bukanlah tujuan utama obyek wisata. Orang yang berkunjung ke sini paling-paling seperti saya yang penasaran dengan cerita Bosscha. Maka dari itu di sekitar daerah ini hanya ada 2 penginapan yang bahkan dari perusahaan yang sama.

Menelusuri jalan yang ada, jalan yang mengitari kebun teh nan luas ini, mencari di mana letak rumah tua Bosscha dulu, sampai akhirnya jalan sudah tidak layak lagi dilalui kendaraan bahkan motor. Tidak ada orang di sepanjang jalan, orang nampak hanya dikejauhan sedang berkebun atau di dalam pekarang rumah yang jaraknya berjauhan. Sampai akhirnya ada seorang warga yang bisa kami tanya, di sini hanya terdapat makam Bosscha katanya. Akhirnya kami memutar arah dan mengikuti petunjuk yang diberikan tadi. Sampailah kami di suatu tempat seperti gazebo a la Eropa bercat putih yang sudah usang dan dipagar tinggi. Di depannya terdapat prasasti, sedikit cerita mengenai beliau, bahwa di sinilah tempat ia dulu sering duduk sore mengamati para pegawainya di kebun teh yang ia buka ini, ada cerita bahwa dia orang Belanda yang sangat baik, ramah kepada pribumi, maka dari itu warga di Malabar sangat hormat kepada beliau mengingat jasanya yang telah memberikan lapangan pekerjaan yang berjalan hingga kini. Pada prasati tersebut juga tercantum bahwa ia lah yang menjadi pencetus didirikannya Tecnische Hoogeshool Bandung (sekarang ITB) dan pembuat Observatorium Ruang Angkasa terbesar di Asia Tenggara pada kala itu. Beliau memiliki andil yang begitu besar bagi pribumi mulai dari pendidikan hingga lapangan pekerjaan, kalau bukan karena beliau mungkin Indonesia belum tentu memiliki institut teknologi dan observatorium ruang angkasa hingga sekarang.

 
 
 
tunggu cerita selanjutnya
Gunung Puntang. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s