my works

Le Georges Pompidou (Pompidou Center)

salah satu catatan kuliahku yang lain, dan tetap masih memiliki banyak kekurangan

 

Dibangun pada masa pemerintahan Presiden Georges di Perancis dengan tujuan membuat pusat kebudayaan. Pada tahun 1969 dibuka sayembara yang kemudian dimenangkan oleh seorang arsitek tidak terkenal (Richard Rogers, yang kemudian terkenal karena proyek ini) dan Renzo Piano. Karena hanya bangunan ini yang menggunakan setengah dari seluruh lahan yang tersedia. Lahan tersebut dulunya hanyalah carpark. Bangunan ini kemudian dirancang terinspirasi dari archigram.

Bangunan ini memiliki konsep kejujuran strutur dan utilitas. Rangka awal bangunan ini adalah dua kolom di ujung yang dihubungkan oleh truss dan ditabilkan oleh kolom metal yang ditanamkan ke dalam tanah. Kemudian rangka tersebut dibuat menjadi lima tingkat dan pada bagian terluar diberi rangka silang untuk fasade sekaligus penghubung antar trave dan lantai. Bangunan ini memliki luas sebesar 70.800 m2 tanpa kolom di bagian tengah tiap lantainya.

Semua Mechanical, Electrical, dan Plumbing diekspos dengan setiap saluran diberi warna berbeda, termasuk juga elevator khusus loading barang. Hal tersebut dimaksudkan untuk member kesan playful. Walaupun utilitas diekspos, hal tersebut justru tidak memberikan kesan ‘berantakan’ pada bangunan ini, karena setiap ruangan dengan fungsi berbeda diberika perlakuan berbeda terhadap desainnya yang responsive terhadap kejujuran utilitas.

Untuk bagian administrasi, privacy tetap terjaga dengan adanya partisi antar ruang kerja setiap pegawai.

Untuk perpustakaan seluas 15.000m2, partisinya hanyalah rak buku.

Untuk museum, bagian dalamnya sudah diberi partisi berwarna putih polos dan ruangnya sudah dirancang dengan prototype gallery atau museum, sehingga nantinya curator hanya perlu merancang sendiri arsitektur bagian dalam pada setiap pamerannya. Walauppun banyak partisi, pada bagian museum atau gallery ini tetap mengefisienkan energi dengan cahaya langsung dari matahari melalui roof top window.

Untuk balkon di setiap lantainya, terutama di lantai paling atas, sangat memanfaatkan keindahan kota Paris, sehingga dapat langsung melihat pemandangan ikon kota-nya, yaitu Eiffel Tower.

Untuk toilet, setelah diberi selubung untuk partisi yang memisahkan dengan ruangan utama, langit-langitnya juga diberikan sendiri, sehingga tidak langsung sampai batas floor-to-floor,

Untuk entrance, karena area terbuka di sekitar bangunan cukup luas dan terhubung langsung dengan pedestrian, area menuju entrance dibuat agak menurun agar entrance lebih berkesan monumental.

Seluruh fasade seperti balkon, koridor atau selsar, merupakan meeting point imajiner antara monument (si bangunan tersebut) dengan kota, dan digunakan sebagai public space.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s