WANDERLUST

Di bagian Timur pulau yang sejak lahir aku pijaki (part Blitar)

Ini adalah sebuah wacana yang seorang kawanku lempar di akhir semester 5 kemarin. Kalau boleh kuceritakan sedikit, mengeluh lebih tepatnya, semester 5 kemarin merupakan peralihan ke kurikulum 2013 dengan beberapa perubahan hasil akreditasi dari KAAB (tak perlu tau lah) yang sangat signifikan, yang paling membuat saya stres ialah ketika dosen pembimbing saya mengancam saya tidak lulus di studio 5 sks.

Sebelumnya saya dan seorang kawan tersebut, namanya Nove, berencana ingin pergi ke Singapura dengan tiket promo salah satu maskapai, tapi karena passport saya masa berlakunya hanya 3 bulan tersisa, jadilah diurungkan. Kemudian kami dan Melati mengumpulkan anggota tim, harus ada laki-laki pastinya, moso ke tanah Jawi gades galo. Dan akhirnya terbentuklah grup di LINE, saya, Nove, Melati, Ninis, Hani, Bu Haji (that’s how you must call her!), Tooz (this case does, too), and Jihad. Until that time I was in the middle of cancellation of my departure with Melati, saya harus menyelesaikan banyak sekali revisi gambar untuk pengumpulan 3 hari lagi yang diperpendek menjadi 2 hari karena kami sudah memesan tiket pada tanggal 22 Desember 2013 dan sudah habis sampai tanggal 31 Desember 2013. So welcoming my all-nighters for the whole-2-days.

jeng jeng jeng….. 45 menit sebelum keberangkatan kereta kami menuju Blitar, saya baru berangkat (thanks kak Nesya for the daypack!) dari kostan saya bersama Nove, dan naik ojek, I didn’t understand why the hack the traffic-jam was happening around the town when I was in a hurry. Oya, jadi tim kami berangkat minus Melati yang entah mengapa batal padahal saya sudah berjam-jam mencari cari untuk menyusul bersama dia.

15:35, 22 Desember 2013, St. Hall Bandung | Seharusnya kereta kami (Malabar) sudah berangkat, kami sudah panik karena  Bu Haji dan Ninis berangkat naik mobil menuju stasiun, dan bergegaslah kami masuk ke gerbong, jadi keretanya ngaret. Sepanjang perjalanan gelap, no views, and I really was starving and sleepy (until my unconscious-ignorance when a woman offered me some food)

06:30, 23 Desember 2013, Stasiun Blitar | Akhirnya kami tiba juga di tujuan pertama kami. BLITAR.

Blitar Kota Patria. Kami naik becak menuju rumah salah satu tim kami, Hani. Terkejut, benar-benar tenang kota ini di pagi hari, sepertinya seru berkeliling kota naik sepeda. Sembariku membayangkan macetnya Bandung di jam yang sama.

Blitar di pagi hari

Blitar di pagi hari

Sesampainya di rumah Hani, kami sudah disajikan makanan, ditunjukan kamar yang bisa kami tempati. Kami istirahat, mandi, berkenalan dengan keluarga Hani, dan beberapa dari kami masih sibuk mengerjakan tugas (titip print ke orang yang masih di Bandung).

Rumah Bung Karno

Setelah kami semua rapi dan kenyang, berangkatlah kami menuju beberapa obyek wisata di Kota Blitar, naik mobil (wah alhamdulillah). Pertama kami pergi ke Rumah Bung Karno, siapa yang tidak tahu beliau, Presiden pertama RI ini dulu tinggal di rumah ini. Rumah bergaya kolonial dengan bukaan-bukaan besar, atap tinggi, bercat putih pucat, dan ternyata rumah ini seperti di-underestimate awal melihatnya, ukuran sederhana, ternyata sangat luas, ada bagian dapur yang sangat luas di bagian belakang. Di dalamnya terdapat beberapa kamar tidur yang saling terhubung, ruang tengah yang luas, furniturnya masih lengkap, terdapat lemari, tempat tidur, cermin, meja, kursi, plakat penghargaan, foto keluarga, lukisan, dan lain sebagainya. Barang kesukaan saya ialah meja rias yang lacinya memiliki pintu rangkap 2, tipu daya. Selama mengelilingi rumah ini kami dibimbing oleh seorang bapak pemandu tua yang sangat fasih menuturkan sejarah dari saksi bisu ini, setelah sekian lama baru menyadar diputar pula rekaman suara Bung Karno berpidato, begitu menggeloranya semangat nasionalisme beliau, yang pada kala itu berhasil membuat negara ini disegani negara-negara maju.

1536645_10202799010405424_773265147_n

Rumah Bung Karno, Blitar

Perpustakaan dan Makam Bung Karno

1512742_10202799027645855_1528995308_n

Bapak Bangsa, Ir. Soekarno

Kami melanjutkan perjalanan kami menuju peninggalan sejarah Bung Karno yang lain, yaitu Perpustakaan dan Makam beliau. Perpustakaan ini dibuka untuk umum, semua orang bebas masuk dan membaca buku di sana, dengan material fasad dominan batu andesit dan kaca, bangunan ini nampak berdiri monumental namun tetap ‘ramah’. Berawal dari tangga yang harus dituruni, kemudian kami melihat Pak Presiden masa Orde Lama ini sedang duduk dan memegang sebuah buku. Perpustakaan ini terdiri dari dua bangunan yang dihubungkan dengan skywalk, kami mencoba memasuki satu per satu ruangan dan melihat-lihat buku yang ada. Ada satu ruangan besar, Museum, terdapat banyak foto sejarah beliau ketika memimpin, melawan penjajahan, sebelum dan sesudah kemerdekaan, sampai beberapa kitab yang saya tidak mengerti apa hubungannya.

1486805_10202799031085941_1076877384_n

Deretan sejarah beliau

Dari tangga di entrance ada pilar-pilar yang akan menuntunmu sampai ke makam beliau. Kami menyewa payung karena hujan, sampai di makam beliau, kami hanya berteduh karena sangat ramai orang yang berdatangan untuk mendoakan beliau. Kami salah fokus, kami tidak berdoa untuknya, entah apakah sebenranya salah satu di antara kami ada yang melakukannya atau tidak, tapi yang jelas kami terpukau melihat ukiran bagian dalam atap pendopo ini. Di pendopo ini pula dimakamkan kedua orang tua Bung Karno, kawasan makam ini merupakan Taman Makam Pahlawan, maka dari itu terdapat gapura besar seperti layaknya Taman Makam Pahlawan lainnya.

1520603_10202799040606179_1718654278_n

Keluarga yang terhormat, nama yang selalu dikenang

Perjalanan ruang yang dibuat oleh dosen kami, Pak Baskoro Tedjo

1505002_10202799023085741_2114617120_n

Entrance

1512606_10202799044086266_326076444_n

Menuju Makam (Deretan grafir dari Studio Sunaryo, Bandung)

1533876_10202799037806109_1533641918_n

Kembali

Sudah siang, cacing di perut kami mulai merana, jadi kami memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran yang direkomendasikan Sang Empu-nya Blitar, Hani, sebuah tempat makan dengan menu segala masakan jamur, jadi saya harus mencoba masakan spesialisasi tempat ini, saya pilih sate jamur. Dan ada insiden, ketika pesanan saya tidak ditulis Tooz, semua pesanan kawan saya sudah datang dan tahu kalau satenya sudah habis dipesan tamu yang datangnya setelah kami. Karena kesal, saya balas dendam dengan pesan iga bakar. Setelah semua beres, ternyata semuanya ditraktir Hani (I don’t know what to say, btw).

Candi Panatharan

Penjelajahan di Kota Blitar pun berlanjut karena saya yang tidak betah kalau tidak mampir ke candi yang sudah menunggu kedatangan pengunjung yang menghargainya. Candi Panataran, sayangnya kami tidak tahu sejarah di balik berdirinya komplek candi ini, yang jelas salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit. Terdapat gapura kecil kemudian singa penjaga sebelum bertemu beberapa pondasi-pondasi candi, lalu di sebelah kiri terdapat candi yang yang tidak utuh, sampai akhirnya ke bangunan utama berundak yang dapat dikelilingi, undakan seperti memiliki sebuah kisah, sementara di undakan atas hanya gambar-gambar tipikal.

1525500_10202799062646730_616054680_n

Candi Pantharan, Blitar

 

994409_10202799069566903_150846102_n

View from the Top of the Main Temple

Kemudian kami berjalan menuju bagian belakang kawasan ini, terdapat kolam pemandian dengan ikan-ikan kecil, kolam ini kecil tapi lumayan dalam sepertinya. Unik sekali, dasarnya adalah pasir, tapi ketika air bergerak tidak menyebabkan air menjadi keruh. Ada seorang bocah laki-laki yang berenang untuk mendapatkan beberapa koin untuk ia jajan. Konon yang melempar koin akan lancar rezeki, tapi kami memanfaatkan itu untuk melihat atraksi dari adik ini, berenang sampai dasar mencari-cari koin, kami lempari koin berkali-kali.

1544345_10202803305512799_2110505860_n

Pemandian, Bocah, Koin, dan Ikan

Hal kecil yang membuat saya sangat tertarik di tempat ini ialah BUAH MAJA! Selama ini saya hanya tahu buah itu sekedar nama dibalik berdirinya Kerajaan besar Majapahit. (And it sounds like my name hahaa)

1489285_10202803294512524_2130370686_n

Maja dan Mazaya

Setelah puas menjelajahi obyek-obyek wisata di Blitar, akhirnya kami kembali ke rumah Hani untuk beristirahat, tapi tak sampai di situ, kami masih punya rencana berkeliling malamnya.

Setelah mandi dan makan malam, kami menyambut malam di Kota Blitar dengan berjalan kaki menuju Stasiun untuk memesan tiket kereta menuju Malang besok pagi. Kami menemukan jalan pintas mengarah ke stasiun karena melihat rel kereta yang paralel dengan jalan tersebut, akhirnya kami menyusuri jalan tersebut sampai sadar kalau ujung dari jalan tersebut adalah jurang dan rel kereta terus mengambang membentuk kembatan di atasnya. Namun kami bertemu seorang laki-laki untuk bertanya arah. Kami menyeberangi rel, terus berjalan ke jalan sempit di seberangnya, dan terpojok di sebuah tempat yang spsertinya bagian dari rumah orang. Ya akhirnya kami menyeberangi kali, alhamdulillah setelah berjalan beberapa menit sampai juga di stasiun. Dan loketnya sudah tutup.

1534334_10202799076207069_1733474883_n

Unknown

Jadi keputusannya besok pagi kami akan naik bus menuju Malang. Langkah kaki kami lanjutkan menuju kawasan pertokoan yang menjual oleh-oleh di dekat Makam Bung Karno, sebelumnya mencari kamera Bu Haji yang hilang dahulu. Di toko itu saya mengincar sendal, karena saya cuma bawa sepatu cimpi ini, akhirnya saya dan Nove membeli sendal jepit kulit yang kembar. Ada berbagai benda unik, seperti mainan tradisional anak, tas, dan yang paling saya ingin beli itu adalah JIMBE MINI yang ukurannya sekitar 10cm paling kecil, tapi sulit dibawa mengingat perjalanan kami masih sangat panjang.

Kami yang sudah lelah akhirnya naik becak karena tujuannya lumayan jauh. Sebenarnya ngin mengunjungi Aloon-Aloon Blitar, tapi berhenti dulu untuk makan soto di pinggir jalan, porsinya mini sekali, saya menghabiskan 1,5 mangkuk berdua Nove. Setelah makan baru terasa lelah dan sudah mengantuknya kami, akhirnya rencana ke Aloon-Aloon dibatalkan, apalagi sudah mendekati tengah malam yang katanya cukup berbahaya, di sini juga banyak anak muda yang ‘mangkal’ di pinggir jalan.

Sampai rumah Hani, kami ngemil, mengobrol, yang lain tidur, dan saya masih harus membuat portofolio yang tidak jadi dibuatkan.

Esok pagi, kami bergegegas mandi, sarapan, dan alhamdulillah portofolio saya sudah selesai dan dititip ke teman kostan saya (Shafa, thank you!). Kami pamit dengan keluarga Hani, saya belum cerita ya, jadi di rumah ini ada Ibu dan dua orang adik laki-laki Hani. Kemudian berjalan beberapa meter menuju perempatan di jalan utama, untuk menunggu bus menuju Kota Malang, dan petulangan tanpa rencana kami pun berlanjut …

Special Regards for Hani’s family, untuk semua jamuannya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s